Kartini Belum Selesai

Setiap tanggal 21 April, bangsa Indonesia memperingati Hari Kartini. Di banyak sekolah, peringatan ini identik dengan pakaian adat, kebaya, lomba busana, atau berbagai pertunjukan budaya. Semua itu tentu baik sebagai bentuk penghormatan kepada perjuangan Raden Ajeng Kartini.

Namun, ada satu pertanyaan yang patut kita renungkan.

Apakah semangat Kartini cukup diperingati sehari dalam setahun?

Kartini bukan hanya sosok perempuan yang mengenakan kebaya. Ia adalah seorang pemikir yang berani mempertanyakan keadaan di zamannya. Di tengah keterbatasan, ia percaya bahwa pendidikan adalah jalan untuk mengubah kehidupan. Melalui surat-suratnya, Kartini menyuarakan pentingnya kesempatan belajar, berpikir bebas, dan memperlakukan setiap manusia dengan martabat yang sama.

Jika Kartini hidup pada masa sekarang, mungkin ia tidak hanya berbicara tentang hak perempuan untuk bersekolah. Ia juga akan mengajak generasi muda untuk berani belajar, berani bermimpi, dan berani menjadi pribadi yang bermanfaat bagi masyarakat.

Sayangnya, tantangan yang dihadapi generasi muda saat ini berbeda.

Bukan lagi sulitnya mendapatkan pendidikan, melainkan bagaimana memanfaatkan kesempatan pendidikan itu dengan sebaik-baiknya.

Masih banyak pelajar yang menganggap belajar sebagai beban. Ada yang lebih semangat mengejar tren di media sosial daripada mengejar prestasi. Ada yang rela menghabiskan waktu berjam-jam menatap layar, tetapi merasa lima belas menit membaca buku adalah sesuatu yang membosankan.

Padahal, kesempatan belajar yang dimiliki hari ini adalah sesuatu yang dahulu diperjuangkan dengan pengorbanan besar.

Semangat Kartini seharusnya tidak berhenti pada pakaian adat atau lomba-lomba seremonial. Semangat Kartini hidup ketika seorang siswa tekun belajar meski mengalami kesulitan. Hidup ketika seorang siswi percaya bahwa dirinya mampu meraih cita-cita setinggi apa pun. Hidup ketika seorang pelajar menghargai perbedaan, menolong teman yang kesulitan, serta berani berkata jujur meskipun tidak ada yang melihat.

Kartini mengajarkan bahwa perubahan selalu dimulai dari keberanian berpikir.

Keberanian untuk bertanya.

Keberanian untuk belajar.

Keberanian untuk memperbaiki diri.

Di era digital, setiap pelajar memiliki kesempatan belajar yang jauh lebih luas dibandingkan generasi sebelumnya. Ilmu pengetahuan tersedia hanya dalam genggaman. Video pembelajaran, buku digital, perpustakaan daring, hingga kelas-kelas gratis dapat diakses kapan saja.

Namun teknologi hanya akan menjadi alat. Yang menentukan masa depan tetaplah kemauan untuk menggunakannya dengan bijak.

Bagi peserta didik SMP Negeri 1 Prambon, Hari Kartini hendaknya menjadi pengingat bahwa setiap anak memiliki kesempatan yang sama untuk berkembang. Baik laki-laki maupun perempuan memiliki hak, tanggung jawab, dan peluang yang sama untuk menjadi pribadi yang berprestasi, berkarakter, dan memberikan manfaat bagi lingkungan sekitar.

Bangsa ini tidak membutuhkan generasi yang hanya pandai berbicara tentang perubahan. Bangsa ini membutuhkan generasi yang mau menjadi bagian dari perubahan itu sendiri.

Mungkin kita tidak akan menulis surat seperti Kartini.

Mungkin nama kita tidak akan tercatat dalam buku sejarah.

Namun setiap kali kita memilih belajar daripada bermalas-malasan, memilih jujur daripada berbuat curang, memilih menghormati daripada merendahkan, dan memilih berkarya daripada hanya mengeluh, sesungguhnya semangat Kartini sedang hidup di dalam diri kita.

Karena Kartini bukan hanya milik masa lalu.

Kartini adalah keberanian untuk menjadi lebih baik, mulai hari ini.