Habis apa Habis?

ADMIN SMPN 1 PRAMBON

Terima kasih telah berkunjung pada laman resmi Pranesa. Semoga informasi dan pengetahuan yang kami bagikan bisa menjadi manfaat bagi semua masyarakat.

Social Links


Setiap hari, jutaan orang di dunia masih berjuang untuk mendapatkan makanan. Di sisi lain, tidak sedikit makanan yang justru berakhir di tempat sampah dalam keadaan masih layak dimakan.

Fenomena ini juga dapat kita jumpai di lingkungan sekolah. Ada kalanya makanan yang disediakan melalui program Makan Bergizi Gratis (MBG) tidak dihabiskan. Sebagian hanya dicicipi, sebagian lagi dibuang begitu saja karena merasa kenyang, tidak suka lauknya, atau sekadar tidak ingin menghabiskan.

Mungkin terlihat sepele.

Namun, jika satu siswa membuang satu porsi makanan, lalu hal yang sama dilakukan oleh puluhan bahkan ratusan siswa, berapa banyak makanan yang terbuang dalam satu hari? Berapa banyak tenaga petani, nelayan, peternak, sopir pengangkut, juru masak, hingga para petugas yang telah bekerja keras agar makanan itu bisa sampai ke meja kita?

Satu butir nasi tidak muncul begitu saja.

Ada benih yang ditanam, sawah yang dirawat, air yang dialirkan, matahari yang menyinari, dan tangan-tangan yang bekerja tanpa lelah. Ada biaya yang dikeluarkan, waktu yang dikorbankan, dan harapan agar makanan itu dapat memberikan manfaat bagi yang memakannya.

Ketika makanan dibuang, yang hilang bukan hanya nasi dan lauk.

Di dalamnya ada kerja keras banyak orang.

Ada pula sumber daya alam yang ikut terbuang. Air digunakan untuk menanam padi. Energi dipakai untuk mengolah dan memasak makanan. Bahan bakar digunakan untuk mengantarkannya. Semua itu menjadi sia-sia apabila makanan berakhir di tempat sampah.

Menghabiskan makanan bukan berarti harus makan berlebihan.

Yang jauh lebih penting adalah mengambil sesuai kemampuan. Jika tahu porsi yang disediakan terlalu banyak untuk diri sendiri, makanlah semampunya dengan tetap berusaha menghabiskan. Bila memang ada mekanisme yang diperbolehkan di sekolah, sampaikan kepada guru atau petugas agar makanan tidak terbuang percuma.

Sebagai pelajar, kita juga perlu belajar menghargai makanan, meskipun menu yang disajikan bukanlah makanan favorit. Tidak semua hari kita akan mendapatkan hidangan sesuai selera. Namun rasa syukur sering kali dimulai dari hal sederhana, yaitu menerima dan menghargai apa yang telah tersedia.

Menghargai makanan juga merupakan bagian dari pendidikan karakter. Sikap disiplin, tanggung jawab, kepedulian terhadap lingkungan, dan rasa syukur dapat tumbuh melalui kebiasaan menghabiskan makanan.

Bukankah kita diajarkan untuk tidak berlebihan?

Bukankah kita juga diajarkan untuk menghargai hasil jerih payah orang lain?

Karena itu, mari mulai dari diri sendiri.

Ambil makanan secukupnya.

Habiskan apa yang sudah diambil.

Jangan membuang makanan hanya karena bosan atau mengikuti teman.

Setiap suapan yang kita habiskan bukan sekadar mengenyangkan perut, tetapi juga menjadi bentuk penghargaan kepada para petani, para pekerja, orang tua, dan semua pihak yang telah menghadirkan makanan di hadapan kita.

SMP Negeri 1 Prambon terus mengajak seluruh peserta didik untuk membangun kebiasaan baik, termasuk dalam menghargai makanan. Sekolah bukan hanya tempat belajar matematika, IPA, atau bahasa, tetapi juga tempat belajar menjadi manusia yang bertanggung jawab.

Karena sesungguhnya, karakter seseorang terkadang terlihat dari hal-hal kecil.

Salah satunya adalah bagaimana ia memperlakukan makanan di piringnya.

Mari biasakan satu tindakan sederhana: ambil secukupnya, habiskan semuanya. Sebab makanan yang kita sia-siakan hari ini bisa jadi adalah harapan yang sangat dinantikan oleh orang lain.